Seberapa Penting Isra Mi'raj Bagi Umat Islam? Senin, 27/01/2025 | 13:32
MAGENT (BabadNews) -- Seseorang bertanya seberapa penting Isra dan Mi'raj bagi Muslim. Sebenarnya umat Islam sedang memperingati apa dan adakah perayaan khusus di hari istimewa ini.
Dilansir di About Islam, Sabtu (25/1/2025), Profesor Shahul Hameed menerangkan bahwa Allah berfirman di Surat Al Isra ayat 1, sebagai berikut.
Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya425) agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Al-Isrā' (17):1
Tidak diragukan lagi bahwa Isra’ (perjalanan malam) yang diikuti oleh Mi'raj (naik ke surga) merupakan salah satu mukjizat dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW.
Menurut pendapat yang paling diterima, peristiwa itu terjadi pada tanggal 27 Rajab, bulan ketujuh kalender Hijriyah, tahun kesepuluh kenabian Nabi Muhammad SAW.
Diriwayatkan dalam literatur hadits, bahwa Rasulullah SAW diangkut dari Masjidil Haram di Makkah ke “Masjid Terjauh” (Masjid Al-Aqsa) di Yerusalem dengan seekor makhluk bernama Al-Buraq bersama malaikat Jibril. Di sana, ia memimpin sholat berjamaah para nabi Allah.
Kemudian, Jibril membawanya ke surga, di mana ia bertemu dengan Nabi Adam, Yahya, Isa, Idris, Harun, dan Musa. Di surga ketujuh, ia bertemu dengan Ibrahim. Beliau kemudian dibawa ke Hadrat Ilahi.
Selama masa ini, Allah memerintahkan 50 sholat lima waktu bagi umatnya. Namun, saat Nabi kembali, beliau diberi tahu oleh Nabi Musa bahwa para pengikutnya tidak dapat melaksanakan 50 sholat.
Jadi, beliau kembali dan akhirnya sholatnya dikurangi menjadi lima sholat sehari. Setelah ini, Nabi SAW kembali ke Makkah pada malam yang sama.
Oleh karena itu, umat Islam harus bersyukur kepada Allah atas karunia ini. Mereka harus menjaga sholat dan tidak pernah mengabaikannya. Itulah hal yang memungkinkan umat Islam berkomunikasi dengan Sang Pencipta lima kali sehari.
Waktu dan Ruang tidak Terikat bagi Allah
Salah satu pelajaran utama dari peristiwa ajaib itu adalah bahwa ruang dan waktu yang terikat oleh hukum alam bagi manusia, tidak demikian halnya bagi Allah. Pada malam itu, Nabi Muhammad menjembatani waktu, ruang, dan dunia ini, dengan melakukan perjalanan ke surga atas kehendak Allah.
"Saya yakin bahwa bagi mereka yang mempelajari filsafat, implikasi abstrak maupun simbolis dari peristiwa tersebut mungkin sangat menggugah. Kesenjangan antara realitas kehidupan ini dan kehidupan yang akan datang pun berkurang begitu saja," kata Profesor Shahul.
Hal ini diilustrasikan oleh pertemuan Nabi dengan nabi-nabi lain yang sudah lama meninggal sejauh yang kita kira, tetapi pada kenyataannya, mereka hidup sebagai makhluk dalam bentuk yang berbeda di tempat lain.
Implikasi dari perjalanan malam itu tidak dapat dilebih-lebihkan. Sifat ajaib dari perjalanan Nabi menetapkan legitimasinya yang dinyatakan ilahi sebagai meterai semua nabi. Allah membawa Nabi SAW kepada-Nya untuk menunjukkan kepada kita nilai sejatinya di hadapan Allah.
Semua tradisi agama memiliki konsep mukjizat, yaitu sesuatu yang menentang logika, alam, atau konstitusi dan jalannya segala sesuatu yang telah ditetapkan.
Kita akan membatasi pembahasan kita pada mukjizat yang sah dari Allah, yang menurut definisinya merupakan satu-satunya mukjizat yang sejati. Ketika kekuatan kekufuran kuat, biasanya mukjizat kenabian yang menentangnya juga lebih kuat.
Nabi Musa diberi beberapa mukjizat, termasuk tongkatnya yang berubah menjadi ular besar dan berpuncak pada terbelahnya Laut Merah, sebagai respons ilahi terhadap kekafiran Firaun yang ekstrem.
Demikian pula, Nabi Isa bahkan diberi kuasa untuk membangkitkan orang mati, untuk menegakkan keabsahannya di hadapan orang-orang Yahudi yang akhirnya menghukumnya mati karena penistaan agama. Meskipun demikian, mukjizatnya tidak dapat disangkal sifatnya. Hanya keteguhan hati dan kesombongan orang-orang yang kepadanya ia diutus yang memungkinkan mereka untuk mengingkarinya.
Perjalanan malam Muhammad jelas tidak mudah dipercayai oleh orang-orang kafir Makkah. Meskipun demikian, Nabi membuktikannya secara logis dengan menggambarkan kafilah-kafilah yang mendekat yang ia lewati saat kembali secara ajaib.
Dengan demikian, mukjizat kenabian khusus ini tidak hanya menegakkan keagungan Nabi bagi umat Islam sebagaimana dibahas di atas, tetapi juga membantu membuktikan kenabiannya kepada orang-orang kafir pada masanya. Bagaimana Cara Memperingati Isra Mi'raj
Bagi umat Islam, tidak ada perayaan, puasa, atau doa khusus untuk memperingati Isra Mi'raj. Namun, di beberapa tempat, umat Islam sudah mulai menyelenggarakan acara peringatan, di mana kisah perjalanan malam itu diceritakan dalam bentuk syair atau ceramah.
Meskipun Nabi SAW sendiri tidak menetapkan praktik-praktik ini, ada ulama yang berpendapat pertemuan yang dimaksudkan untuk mengingatkan umat Islam tentang pentingnya Isra Mi'raj dalam sejarah Islam atau untuk mengingatkan kita tentang pentingnya cinta kepada Nabi dan pentingnya kota Yerusalem, adalah diperbolehkan.